Sabtu, 28 Juni 2008
MAFIA KATRO
Kehidupan seorang bos mafia, sangat menarik. Kejahatannya seringkali tidak terjamah oleh hukum. Bos mafia bisa tampil bersahabat di muka publik namun dibalik segala apa yang terlihat ia menunjukkan kekejaman. Lihat saja apa yang dilakukan oleh Al-Capone , bos mafia di Chicago, AS pada era tahun 1930-an, dengan organisasi kejahatan yang tersohor bernama La Cosa Nostra. Meskipun sebagai aktor dibalik sejumlah pembunuhan keji dan juga melakukannya sendiri, namun ia selalu tampil bak seorang pahlawan. Ia selalu terlihat sebagai pribadi yang ramah dan suka menderma di depan umum. Misalnya saja ia dengan murah hati membagi-bagikan makanan secara gratis kepada masyarakat yang tengah menderita ketika terjadi Depresi di Amerika Serikat (http://www.chicagohs.org/).
Mafioso Ala Indonesia
Untunglah di Indonesia tidak ada mafioso dan penjahat kakap seklas Al-Capone. Sehingga kita tidak harus menyaksikan pembunuhan sadis dan peperangan antar gang di Indonesia. Hanya saja hal ini bukan berarti organisasi mirip mafioso dan karakter seorang bos mafia seperti Al Capone tidak dijumpai di Indonesia. Perilaku yang suka mengecoh masyarakat, ibarat seekor bonglon masih dapat kita jumpai di Indonesia demikian juga sifat-sifat mafioso lainnya.
Perilaku politik dari sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat kita tercinta sesungguhnya dapat disandingkan dengan perilaku seorang Bos Mafia. Dan mekanisme kerja di DPR sering kali tidak berbeda dengan organisasi mafia. Mengapa? Anggota DPR konon terkenal dengan kemampuannya memanipulasi persepsi massa. Tampak seperti sang pembela rakyat namun sesungguhnya tidak memperdulikan rakyat. Dalam kampanyenya setiap calon anggota DPR selalu berjanji akan mesejahterakan masyarakat. Demikian ketika ia telah menjadi anggota DPR dan tampil didepan umum, perkataanya penuk ungkapan altruistik, “ Ini semua bagi kepentingan rakyat”.
Namun dibalik realitas publikasi publik, yang dimainkan para anggota DPR adalah sebuah teater murahan. Tidur ketika sidang, mungkir mengikuti rapat di Komisi, tapi menuntut agar gaji dinaikkan, mengharapkan studi banding ke luar negeri. Setelah menjabat beberapa saat anggota DPR mengalami peningkatan kesejateraan karena mendapat fasilitas kehidupan yang memadai namun rakyat yang diwakilinya malah makin sengsara dan memble.
Penilaian di atas ini bukan tanpa dasar. Sekretaris Fraksi Partai Demokrat (F-PD), Sutan Batoegana yang juga anggota komisi VII malah mengakui jika sebagian besar anggota DPR kurang bertanggjawab atas tugasnya sebagai wakil rakyat. “Antara kewajiban dan hak tidak seimbang. Mereka lebih mengejar haknya. Kecurangan anggota DPR itu dari mulai soal kehadiran, penggunaan fasilitas Dewan, tindakan asusila dan lainnya. Kalau kode etik DPR benar-benar ditegakkan, maka 50% lebih anggota DPR pasti melanggar semua (eramuslim, 2006).
Bagi anggota DPR yang terpenting adalah mengejar keuntungan sendiri dan kelompoknya, sedangkan rakyat cukup dininabobokkan dengan janji-janji kamuflase. Layaknya bos mafia yang kepentingannya merauk keuntungan dari bisnis judi dan pengedaran obat terlarang, sesekali waktu tampil dermawan menarik simpati masyarakat maka sejumlah anggota DPR memiliki tujuan merauk keuntungan dari uang rakyat yang seharusnya ia bela namun didepan publik tampil bak seorang pembela rakyat. Dan sama kejamnya dengan seorang bos mafia yang membunuh musuh-musuhnya dengan sadis, sedangkan anggota Dewan membiarkan rakyat Indonesia menghadapi sulit dan mahalnya barang-barang kebutuhan pokok, tidak menghiraukan rakyat kecil yang tergusur dan bentuk ketidakadilan lainnya, meskipun para anggota dewan bisa melakukan banyak hal. Membiarkan orang lain tersiksa meskipun bisa mencegahnya sama jahatnya dengan pelaku penyiksaan itu sendiri.
Demikian halnya cara kerja anggota DPR secara tim. Mereka dapat menyamarkan tindakan penyimpangan yang mereka lakukan sehingga tidak terciduk oleh hukum. Misalnya saja dalam kehidupan mafioso, seorang anggota mafia dapat dikorbankan menutupi kejahatan yang dirancang oleh keseluruhan organisasi. Bukankah situasi demikianpun analog dengan apa yang berlaku pada anggota DPR. Misalnya saja kasus Al-Amin, anggota Fraksi PPP yang tertangkap tangan oleh KPK sebesar Rp 71 juta atas dugaan suap alih fungsi hutan lindung di Kepulauan Riau. Namun hanya ia yang ditetapkan menjadi tersangka. Seolah tindak suap ia lakukan adalah atas keputusannya sendiri.
Namun apakah cukup masuk akal jika hanya Al Amin yang terlibat dalam kasus suap tersebut yang terkait dengan persoalan keputusan DPR yang melibatkan seluruh anggota Komisi IV? Atau mungkin saja karena Al Amin seorang jawaran yang ditakuti di Komisi IV sehingga dapat menentukan keputusan di Komisi tersebut.
Kasus ini mendadak heboh. Seolah ini adalah kali pertama anggota DPR menerima suap. Namun apakah demikian? Apakah benar anggota terbukti selama DPR enggan menuntut uang goni-gini atau uang melek agar pembahasan atau pengesahan sebuah rancangan peraturan dapat berlangsung dengan lancar ?
Malah DPR berdasarkan hasil suvei TII (Tranparansi Internasional Indonesia) meluncurkan hasil surveinya yang dilabeli Global Corruption Barometer (GCB) DPR didaulat sebagai lembaga dengan urutan tiga besar terkorup (Riau Pos, 12/2007). Ditambah lagi, sebelum munculnya kasus yang melibatkan AL-Amin, DPR diperhadapkan dengan terkuaknya kasus dana aliran BI sebesar Rp 3,8 miliar pada tahun 2004. Dimana penyerahan uang tersebut bertujuan melempangkan pembahasan tiga rancangan undang-undang, yakni RUU Lembaga Penjamin Simpanan, RUU Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan RUU Kepailitan yang dikerjakan oleh DPR (12/11/07, Tempointeraktif).
Hebatnya tidak banyak anggota DPR yang ditetapkan sebagai tersangka meskipun pembahasan RUU tersebut melibatkan seluruh anggota komisi IX. Karena seperti halnya aturan mafioso yang juga berlaku dikalangan anggota DPR, korbankan satu dua orang untuk menyelamatkan kejahatan organisasi yang dilakukan secara kolektif. Intinya profesionalisme sebuah organisasi kejahatan ditentukan dari kemampuannya menyembunyikan tindak kejahatan organisasi dengan rapi.
Tujuannya agar aktivitas korupsi dan manipulasinya tetap dapat berlangsung di DPR, toh, tidak semua pelaku penyimpangan tersentuh hukum. Anggota DPR yang senang memperoleh penghasilan ilegal layaknya anggota mafioso dituntut harus bertindak cerdik dan terencana agar penyelewengannya tidak tercium dan terkuat sehingga dapat merauk kekayaan tidak terbatas.
Membersihkan Citra Mafioso dari DPR
Oleh sebab itu bagaimana agar DPR tidak terjangkiti wabah mafioso? Saya teringat jawaban cagub Sumut ketika mencari padanan kata premanisme. Hampir seluruhnya berkata ” berantas”. Tentu hanya sama yang harus kita serukan ketika mendengarkan kata “mafioso DPR” yakni ”berantas, tas..tuntas.....”.
Proses pencegahan harus dilakukan sejak penentuan nama-nama calon legislatif. Masyarakatlah yang menentukan kader partai yang layak dipilih sebagai calon wakil rakyat. Mereka yang akan dipilih adalah sosok yang dikenal dan memiliki kredibilitas di mata masyarakat. Idealnya mereka tinggal di daerah pemilihannya dan menjadi bagian dari masyarakat yang akan memilihnya.
Anehnya dalam pemilihan sebelumnya, orang-orang dari entah-berantah tiba-tiba muncul sebagai calon legislatif di daerah tertentu. Ketika melihatnya gambar dan namanya terpampang masyarakat malah mengerutkan dahi. Karena rakyat tidak menandai si calon sehingga tidak bisa menentukan apakah si calon adalah orang baik dan layak dipilih atau bekas preman di wilayah asalnya?
Ketika masyarakat mengenal benar siapa yang ia pilih, maka jika aspirasinya tidak tersalurkan sang wakil rakyat dapat ia tuntut. Klaim bisa dilayangkan melalui telepon, email, surat kaleng atau mendatangi langsung ke Gedung DPR. Jika tidak juga diindahkan, karena si wakil rakyat berasal dari tempat dimana ia dipilih, maka masyarakat yang menjadi konstituennya dapat menerapkan sanksi sosial bagi dirinya dan keluarganya. Mereka akan dikucilkan. Atau konstituennya dapat memutuskan emoh memilihnya kembali pada pemilihan selanjutnya karena sudah menyadari sisi buruk sang anggota DPR tersebut.
Tapi berbeda jika yang dipilih dari negeri entah berantah. Jika masyarakat kesal, keluarga sang wakil rakyat tidak akan terusik, dapat tidur nyenyak dan tidak merasa terkucilkan oleh masyarakat yang tidak ia kenal. Sang wakil rakyat juga tidak merasa bersalah atau bertanggung jawab karena tidak mengenal orang-orang yang memilihnya. Ia lebih merasa berutang budi pada partai karena telah menempatkannya sebagai calon urutan pertama sehingga suara yang tidak jelas memilih siapa secara otomatis menjadi suara pendukungnya.
Intinya rakyat harus dapat memilih orang-orang yang benar-benar ia kenal, dan kredibilitanya dapat dinilai serta antara sang wakil rakyat dan konstituennya dimungkinkan terjadi interaksi secara personal. Demikian juga dengan sang wakil rakyat, ia harus mengenal betul siapa yang menjadi konstituennya. Sehingga sang wakil rakyat memiliki tanggung jawab moral sedangkan masyarakat pemilih dapat melakukan kontrol sosial.
Namun buat anggota DPR yang masih menjabat dan merasa dirinya sebagai bagian sindikat mafioso, ini adalah saatnya untuk bertobat. Bahwa rakyat sudah berada diambang batas resisten dalam menghadapi tekanan hidup. Rakyat cukup menderita, pengangguran merajalela, harga barang-barang kebutuhan hidup semakin mahal, gizi buruk mengancam anak-anak Indonesia. Dan tentunya menjadi aneh bagi masyarakat, jika orang-orang yang diharapkan memperjuangkan nasibnya malah dengan mudah membagi-bagi uang jutaan rupiah dari sumber-sumber tidak jelas, asik dengan aksi suap menyuap dan studi banding ke luar negeri tanpa hasil tindak lanjut yang jelas. Sedangkan masyarakan yang harusnya dibela harus terus mengais uang untuk dapat bertahan hidup.
Ketidakadilan dapat memicu pergolakan masyarakat. Rakyat yang sengsara kemudian menatap tajam kepada anggota DPR untuk kemudian menumpahkan kebenciannya oleh karena ketidakadilan yang dipertunjukkan anggota DPR. Kemudian masyarakat berikrar sudah saatnya menggayang para mafioso DPR, layaknya memperlakukan kaum bangsawan/nigrat yang mengabdi kepada kepentingan kolonial di era revolusi. Atau lebih ekstrim lagi rakyat berpikir mempersenjatai diri untuk melakukan perlawan terhadap pemerintah atau wakilnya sendiri di DPR yang lalim seperti yang terjadi di Amerika Latin. Walaupun berandai-andai namun hal ini mungkin saja terjadi ketika orang-orang yang diberikan otoritas dan hak kekuasaan untuk mengabdi kepada rakyat malah mensejahterakan dirinya sendiri. Dan rakyat menjadi marah.....
Tutup mulut rapat-rapat, buka mata lebar-lebar, nasehat Al Capone
Dalam buku saduran dari The Mafia Manager: a guide to the corporate machiavelli, penulis seorang mentor Mafia yang masih aktif, pada dasarnya resep tim sukses Mafia dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu mempersiapkan dan mengelola diri sendiri agar terampil menjalankan tugas dan saat mengelola atau mempekerjakan orang lain.
Ada setumpuk buku yang menjelaskan teknik-teknik manajemen dari para eksekutif perusahaan raksasa bisnis yang sukses. Tetapi kebanyakan buku-buku tersebut hanya mengulang-ulang teori yang dipercaya masyarakat luas dan para akademisi sebagai bagian dari kurikulum MBA.
Tetapi yang tidak pernah dibicarakan dalam buku-buku teks adalah endapan kebijaksanaan dari orang yang pernah mengelola salah satu kartel besar di dunia, paling menguntungkan, paling panjang dalam sejarah kapitalisme dan kejahatan terorganisasi yang dijuluki Mafia, La Cosa Nostra, The Syndicate, The Mob, The Outfit dan setengah lusin julukan lainnya.
Yang berbeda dalam sistem pengelolaan usaha ala mafia, mereka tidak mengobral kata-kata. Semua berdasarkan pragmatisme dan irit kata sehingga sering dijuluki Kekaisaran Bisu.
Seorang anggota Mafia kawakan biasa disebut “capo” yang artinya mentor – menyoba menuliskan seluk beluk manajemen dalam organisasi Mafia. Ia hanya dikenal dengan nama samaran Mr “V” bahkan lokasi kediamannyapun dirahasiakan.
Kedudukan mentor dalam organisasi Mafia sangat dihargai sebab nasihatnya sekalipun kadang bertentangan dengan cara pemikiran yang konvensional, namun sejujurnya mereka adalah sumber ilmu dan pengetahuan hidup organisasi sehingga dipercaya melebihi teman dekat atau bahkan pasangan hidup sekalipun.
Kehidupan Mafioso sebutan anggota Mafia umumnya sangat tertutup bagi orang luar sehingga merupakan masukan berharga tatkala salah satu pentolan mereka memberanikan diri mengungkapkan seluk beluk organisasi rahasia asal Sisilia yang terkenal sangat disegani para lawan maupun hamba wet sendiri.
Mr “V mengutip salah satu tulisan Machiavelly dalam buku Il Principe. Dikatakan bahwa kadang manusia baik akan menjadi kecewa ketika mereka berada di tengah orang tidak baik. Oleh sebab itu, perlu belajar menjadi orang tidak baik sehingga pada saatnya kita dihadapkan pada pilihan untuk menggunakan atau tidak menggunakan kemampuan kita.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering kecewa mengapa tokoh penjahat Mafia selain selalu dilukiskan kaya raya hidup bergelimang harta juga organisasi mereka bisa besar, mampu berekspansi namun tangan hukum seperti kesulitan untuk menyentuhnya. Sementara usaha dagang yang “lurus” lebih banyak yang setengah jalan lantaran lebih banyak dibumbui intrik perebutan kekuasaan, penghianatan dan korupsi.
Selanjutnya V menulis bahwa orang yang sukses menuju puncak kepemimpinan dalam Mafia biasanya orang yang mampu mengelola orang lain. Tak salah ia menyitir pepatah bahwa hawa dipuncak gunung kadang memang lebih hangat daripada di lembah. Sayangnya di puncak gunung tidak tersedia banyak ruang lapang sehingga harus diperebutkan.
Sejarah Mafia
Mafia berasal dari bahasa Sisilia kuno, Mafiusu, yang diduga mengambil kata Arab mahyusu yang artinya tempat perlindungan atau pertapaan.
Setelah revolusi pada 1848, keadaan pulau Sisilia morat-marit sehingga mereka perlu membentuk ikatan suci yang melindungi mereka dari serangan bangsa lain dalam hal ini bangsa Spanyol. Nama mafia mulai terkenal setelah sandiwara dimainkan pada 1863 dengan judul I mafiusi di la Vicaria “Cantiknya rakyat Vicaria), yang menceritakan tentang kehidupan pada gang penjahat di penjara Palermo.
Sekalipun tidak jelas siapa yang mendirikannya, namun pendirian organisasi ini mula-mula berdasarkan ikatan persaudaraan diantara sesama warga keturunan pulau Sisilia. Dalam perjalanan sejarah, kelompok yang semula kecil menjadi besar dan membutuhkan dukungan keuangan yang lebih banyak sehingga misi pendirian organisasi mulai bergeser menjadi mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan tidak mengindahkan tata aturan masyarakat yang lain. Yang mengherankan para anggotanya merasa tidak melakukan tindakan kriminal sebab di mata mereka, apa yang dilakukannya adalah sekedar memberikan proteksi atau perlindungan terhadap kelompok lain yang mengalami tekanan atau pemerasan. Sehingga pelaku merasa bangga dan terhormat dapat “menolong” seseorang dari kesusahan. Sejak itulah kata Mafiusu berubah arti menjadi orang atau organisasi “terhormat.”
Nama lain dari Mafia adalah Cosa Nostra, anggotanya selalu menulis kata ini dengan penuh hormat yaitu ditulis dengan awal huruf besar. Pengertian Cosa Nostra sendiri adalah “our thing” atau sama-sama satu bangsa, satu pemikiran atau “orang kita.” Namun dalam buku terjemahan Mafia Manager oleh Bern Hidayat disebut bahwa terjemahan Cosa Nostra adalah “urusan kita.”
Ketika beberapa pentolan Mafia seperti Johnny “si rubah” Torrio berimigrasi ke lahan yang lebih menjanjikan yaitu Amerika sekitar 1930, maka dunia kejahatan Amerika mulai diwarnai darah yang dihasilkan oleh orang berdarah Italia. Apalagi Johnny merasa perlu membawa seorang tangan kanannya yang dikenal licin dan kejam terhadap musuh-musuhnya yang kelak akan merepotkan pemerintah Amerika, Al Capone.
Penyaringan menjadi anggota Mafia.
Untuk menjadi anggota Mafia secara turun temurun dibutuhkan seseorang yang memang berdarah Sicilia. Bila syarat ini dipenuhi, maka ujian lainnya adalah apakah masih merupakan pimpinan kelompok gang tangguh diwilayah anda. Proses selanjutnya adalah melampirkan daftar referensi dari gembong Mafia yang menyatakan mereka mengenal calon anggota tersebut dan lampu hijau baginya untuk diterima.
Bila seseorang telah resmi diterima, maka para plonco ini akan berada dibawah pengawasan seorang mentor yang mereka sebut “capo”– pelajaran pertama tentunya selain taat pada perintah sang Capo, para plonco harus menjaga mulut rapat-rapat, namun membuka mata dan otak lebar-lebar. Kalau para Capo tertawa, maka anak didikannya harus tertawa. Kalau Capo membentak, maka diwajibkan bagi anak didiknya untuk terbungkuk-bungkuk seakan baru dilanda angin puting beliung. Tidak ada perintah yang bersifat kelewat bengis atau tidak manusiawi, semua harus diterima sebagai perintah yang masuk akal. Perintah Capo adalah perintah Dewa dalam arti tidak boleh ditolak, dan harus dikerjakan serta diselesaikan dengan sempurna, rapi dan jangan meninggalkan jejak.
Ada pepatah dikalangan para siswa yaitu “bergaulah dengan orang diatasmu, dan lunasilah semua ongkosnya.”– menjelaskan bagaimana hubungan siswa dengan pelatih.
Namun jangan coba menjilat mentor ini secara berlebihan sebab bukan tidak mungkin para penjilat diberi ciuman kematian oleh sang Capo. Bilamana Capo memberi tugas, maka anggota wajib melakukan dengan benar sehingga diperlukan seni bertanya kepada para Capo yang tentunya tidak mudah.
Beberapa anggota baru sering mengalami kesulitan akan “seni bertanya” kepada mentor mereka, namun hal ini sangat penting dilakukan. Sebab apa jadinya kalau gara-gara tidak paham perintah, seseorang menyikat anggota mafia lain yang memang ditanam dalam organisasi lain, atau menaruh bom di tempat yang salah.
Resep lain jangan pernah bermain cinta dengan kenalannya, atau orang-orang yang berada di bawah perlindungan sang Capo.
Jangan cepat tergoda jika gundik-gundiknya, sekretarisnya, isterinya, keponakan, anak, bahkan babu sekalipun menggoda anda dengan lirikannya. Pendeknya apapun miliknya jangan sekali-sekali disentuh. Kalaupun kelak ada yang dijadikan menantu oleh sang Capo, tentu saja atas ijinnya, maka sebutlah ini sebagai “karunia Tuhan atas manusia pilihan.”
Mereka menyebut larangan ini dengan “jangan ambil daging ditempat Capo mengambil roti.” Hukuman bagi pelanggar komitmen hanya satu yaitu mati.
Kalau ada yang memiliki bakat wartawan, para Capo akan tidak mengendurkan pengawasan terhadap mahluk aneh satu ini. Pasalnya mereka tidak suka pada kegiatan menulis termasuk menulis nama pelanggan, alamat-alamat, jumlah hutang, persetujuan rahasia. Dokumen ini nantinya akan menjadi kendaraan yang cepat menjebloskan penulisnya kedalam penjara.
Lalu bagaimana setelah bertahun-tahun berada dalam organisasi tetapi sang Capo masih ingin duduk di karier tersebut?.
Tidak ada larangan tertulis bahwa bawahan boleh menyingkirkan sang Capo tua. Bukankah mereka sudah lama menikmati kenyamanan kariernya.
Setelah siswa dinyatakan lulus dalam pendidikan, maka pendidikan selanjutnya adalah memasuki dunia nyata yaitu dunia politik para anggota Mafia. Nasehat singkat jangan selalu mengikuti nasehat teman, sebab bukan tidak mungkin mulut manis menyembunyikan maksud ingin melihat kita jeblok.
Bisnis dalam mafia bukanlah sekedar mencungkil mata, mematahkan jempol atau meremukkan tulang tempurung.
Berbisnis dengan Mafia berarti memberikan uang berlebihan kepada para pelanggan. Jika pelanggan paham dengan cara berbisnis Mafia, maka terjadilah win-win-solution, namun apabila mencoba bermain-main dengan mafia, maka tidak akan ada obatnya kelak di pengadilan, polisi, anggota DPR maupun MPR.
Mungkin anak-anak suka sekali akan toko besar Toys “R” Us, sementara para mafioso lebih suka memelesetkan istilah Government “R” Us.
Betul anggota Mafia atau paling tidak suporter Mafia ada dimana-mana. Kalaupun ada pertanyaan bagaimana mungkin suap bisa menembus sisi pemerintahan, maka jawabannya sederhana. Dengan metode kuno yang sudah dipahami oleh setiap orang, namun masih terbukti ampuh.
Orang bekerja dengan dan untuk suatu nilai yang mapan terus menerus. Maka sifat manusia bila mereka ingin sesuatu yang lebih. Maka mafia akan memberikan iming-iming dan insentif sehingga bila umpan ini ditelan, nilai kemapanan suporter kami adalah keserakahan namun sekaligus ketakutan bilamana rahasianya dibocorkan.
Kesulitan dalam berbisnis adalah bilamana pihak keluarga ikut terlibat?. Maka nasihat para mentor yang patut didengarkan adalah, berbisnislah dengan orang lain seperti dengan saudaramu sendiri, namun berbisnislah dengan saudaramu sendiri seperti pada orang lain.
Kecerdikan mafia dalam berbisnis mudah dipelajari. Orang berkuasa adalah pemilik peraturan dan emas. Bilamana ketelnya mendidih dan menggelegak, gunakan sendok panjang untuk mengambil buburnya. Namun jika rumahnya terbakar, hangatkan dirimu sendiri.
Jika pernah mendengar aquisisi perusahaan, bisa jadi Mafia bermain dibelakang semua ini. Pencuri besar menggantung pencuri teri, mereka menyebutnya demikian.
Layaknya orang berbisnis, akan menemui kendala. Sebelum mengurai kendala, perlu memahami watak manusia.
Di dunia ini Mafia hanya mengenal dua kelompok, pemberi sogokan dan yang menerima sogok. Pilih salah satu yaitu pemberi. Maka akan mudah mendapat teman, sekutu, serdadu dan letnan. Sementara musuh akan didapatkan dengan gratis dan berlimpah.
Namun masih banyak kekeliruan dilakukan para pendiri dan bos-bos mafia, yaitu bilamana menyangkut harga diri, orang menjadi tersandung batu, bukan gunung.
Orang berbisnis harus mewaspadai tetangga yang bangun pagi sebab kita harus bangun lebih pagi lagi. Pepatah Jepang mengatakan, mustahil mengalahkan kekuatan ekonomi orang Barat jika orang Jepang hanya bekerja keras. Mereka harus bekerja lebih keras lagi dan lebih cerdik.
Tukang pukul Mafia lebih suka duduk mengobrol sambil main catur, kartu, membual tentang cewek-cewek, tentang hasil memalak. Padahal jika waktu menunggu diisi oleh membaca sesuatu yang berguna, bukannya memelototi teka-teki silang. Bekerja dengan lebih cerdik, bukan asal bekerja keras. Untuk itu mulai menjadualkan tugas-tugas. Pilih melakukan tugas berat pada saat enerji sedang mencapai puncaknya. Delegasikan tugas kalau perlu kepada bawahan. Delegasikan lebih banyak lagi sehingga ada waktu terluang untuk mempelajari sesuatu yang baru
Mengelola orang lain
Setelah semua pendidikan dilalui, saat tanggung jawab mulai menumpuk maka sesuai nasehat para mentor diperlukan pendelegasian tugas. Makin banyak yang didelegasikan makin baik. Maka perlahan mafioso harus mempekerjakan orang lain.
Dan ini berarti mulai berhadapan pada kenyataan bahwa kebanyakan orang tidak berkompeten daripada yang kita harapkan, setidak-tidaknya dari surat lamaran ataupun wawancara dengan mereka.
Sebelum Bill Gates dari Microsoft mencanangkan kampanye seorang cerdas lebih baik daripada seratus orang dungu, maka para bos Mafia sudah melakukannya terlebih dahulu lima abad lalu. Terlalu banyak karyawan dungu selain akan melahirkan pengkhianat, juga overhead yang tinggi.
Calon karyawan lulusan segar dari universitas, setinggi apapun nilai dalam diplomanya, tidak akan mampu menyelesaikan pekerjaan yang bersifat kritis. Lebih baik berikan pekerjaan penting kepada seseorang yang sudah terbukti mampu memperlihatkan kemampuannya dalam memimpin dan bekerja sama dalam sebuah tim. Sebaliknya bilamana pekerjaan sangat teramat vital, maka jangan mempercayakan penuh kepada pakar yang bersemangat tinggi, seperti halnya dalam militer, orang bersemangat dengan jajaran tanda penghargaan di pundaknya akan berbahaya.
Orang semacam ini lebih mementingkan tanda jasa di atas segalanya. Jangan ada lebih dari dua kakak beradik, jangan mempekerjakan kekasih, suami atau istri dalam organisasi.
Saat melakukan wawancara dianjurkan untuk duduk berdampingan sehingga reaksi-reaksi pelamar dapat diketahui dengan pasti. Ajukan pertanyaan secara spesifik, lalu susul dengan pertanyaan “mengapa?” dan “bagaimana?” Karyawan yang diterima tentu harus memiliki loyalitas, para Capo mengatakan orang yang sangat loyal hanyalah dirimu sendiri.
Tempat kedua setelah loyalitas adalah kemampuan, ketrampilan dan kompetensi. Promosikan orang yang handal dan kadang badut. Ujilah mereka lalu perkuat tulang belulangnya dengan menangani pekerjaan kasar seperti juru masak, tukang kebun.
Bilamana karyawan ini lulus dalam ujian, mereka siap dengan tugas berat selanjutnya.
Orang lain yang perlu diperhitungkan adalah sekretaris. Dia mengetahui hampir semua rahasia, memiliki kemampuan juru runding, penjaga pintu. Sering-sering beri hadiah menarik bagi sekretaris, namun jangan sekali-sekali bercinta dengannya.
Berbeda dengan usaha lainnya, dalam organisasi Mafia tidak dikenal direktur Sumber Daya Manusia. Semua keputusan penerimaan atau penolakan pegawai langsung ditangani bos dalam hal ini anda sendiri. Organisasi Mafia dilarang memasang iklan di media massa soal penerimaan pegawai baru. Sebaliknya seorang akuntan yang handal adalah Dewa di dunia nyata para mafioso. Disadari para mafioso adalah orang yang cerdik dalam melakukan tugas bersifat pragmatis dan memerlukan insting, namun menjadi badut tatkala berbicara mengenai pembukuan sehingga memerlukan
bantuan orang yang handal dalam mengelola keuangan.
Maka tidaklah mengherankan jika para mafioso kerap memberikan hadiah, dan kemewahan lain kepada para akuntan mereka.
Untuk memperkuat rasa solidaritas dan kebanggaan akan organisasi, para mafioso gemar mengobral gelar dan kepangkatan. Mereka akan menamakan tukang pembersih WC sebagai “Staf Ahli Janitor,” sehingga penyandang gelar tidak merasa direndahkan.
Alasan lainnya, dalam bisnis pelanggan biasanya hanya ingin dilayani oleh pihak yang “memiliki otoritas,” bukan dengan kroco atau bawahan. Untuk itu gelar semacam “vice presiden,” akan diobral agar menyenangkan pelanggan. Namun ini tidak berarti bahwa ada pangkat Bos segala Bos, sebab ini hanya akan menimbulkan bibit dengki dan bibit perpecahan. Karena itu para bos dari masing keluarga diberi pangkat sederajat.
Setiap tahunnya dengan bantuan akuntan dilakukan evaluasi untuk kenaikan gaji. Inilah satu-satunya cara meningkatkan spirit para karyawan. Karyawan yang menonjol prestasinya diberikan insentif berupa kenaikan gaji yang lebih dari sewajarnya, namun jangan lupa untuk memanggilnya empat mata dalam ruang tertutup dan katakan kepada mereka betapa pimpinan harus melanggar norma penggajian demi untuk memberikan apresiasi terhadap karyawan khusus. Sementara kepada karyawan yang selalu mengeluh kekurangan uang, berikan kesempatan untuk menjalankan usaha sampingan di luar usaha resmi. Tentunya setelah melalui persetujuan dari atasan.
Berapa banyak kebijakan pemerintahan yang seharusnya dilakukan secara rahasia ternyata malahan menjadi barang edaran di kalangan para pemburu berita.
Para mafioso pun menyadari pentingnya kerahasiaan tersebut. Rahasia pasti bocor, orang bicara di kafe, di tempat tidur, warung, saat dalam pesawat, menunggu giliran panggilan di dokter, di arisan. Kadang tanpa disadari rahasia justru dibuka blak-blakan di papan pengumuman, kertas fotocopy yang tidak terpakai di tong-tong sampah.
Resep cespleng menekan rahasia bocor adalah jangan bicara kepada isteri atau suamimu lebih dari yang mereka perlu. Dalam kehidupan keluarga mafia, satu dari tiga perkawinan mafia berakhir dengan perceraian. Bukan tidak mungkin rahasia yang semula dipendam akan dikupas habis sebagai usaha balas dendam.
Juga berhati-hati terhadap mulut anak-anak. Singkatnya harus mencurigai semua orang termasuk pengantar susu, koran atau tukang ledeng. Jika rahasia masih bocor juga, sebarkan informasi palsu namun jangan lupa sewa detektif untuk memastikan bahwa si pembocor rahasia cepat ketangkap basah.
Tokoh panutan dalam mafia adalah Johnny Torio yang kerap dipanggil si rubah sebab ia adalah perwujudan master mind langka yang pernah dihasilkan oleh organisasi.
Johnny memiliki “doktrin uomo di panza” manusia perut, yang arti luasnya menyimpan semua rahasia hanya di perutnya. Doktrin kedua adalah “uomo segreto” alias manusia penuh rahasia, susah ditebak. Tetapi diatas segalanya si rubah terkenal akan kesabarannya “uomo di pazienza.” Manusia sabar di sini adalah mampu memegang kendali dalam segala situasi. Dia tegas, tidak bergeming dalam segala hal, menjaga jarak dengan dunia luar.
Konon dia memiliki kekuatan batin yang mampu membuat kedatangannya selalu diperhitungkan. Johnny mampu menunggu, merencanakan dan menyerang persis rubah pada saat yang diperhitungkan dan sukses.
Membayangkan seorang bocah usia tujuh tahun masih memandikan babi buta milik ayah tirinya di Brooklyn, Amerika. Masih sulit dipercaya bahwa setengah abad kemudian menjadi orang kaya dan paling diperhitungkan di jaringan kejahatan skala besar Mafia Amerika. Dalam hingar bingar pemberitaan media nama si Rubah tidak setenar tokoh flamboyan Al Capone, padahal sebagai seorang manager, Johnny lebih efektif dan sukses.
Memecat karyawan
Di manapun juga ada masanya seorang karyawan tidak dibutuhkan lagi. Sebelum memecat mereka, dokumentasikan beberapa kegagalan karyawan lalu buat memo ke berbagai bagian. Kemudian lakukan tindakan skorsing sehingga memperkuat catatan keburukannya sehingga jika karyawan melakukan banding di pengadilan, data kelemahan mereka sudah dimiliki disertai bukti penguat bahwa tindakan peringatan berupa skorsing telah dijatuhkan.
Kesimpulan:
Banyak orang mengira bahwa semua yang berbau mafia adalah kejahatan. Apalagi kalau mengutip kata mutiara keajahatan Al Capone “untuk mendapatkan keuntungan banyak, selain dengan kata manis, juga perlu senjata yang menyalak.”
Mungkin itulah sebabnya jarang orang berusaha menggali rahasia dibalik manajemen mafia. Apalagi novel dan filem lebih banyak mendramatisir tinju, asap mesiu dan darah muncrat.
Pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar sebab pada kenyataannya membangun sebuah organisasi besar sejak lima abad dan masih berdiri kuat sampai sekarang, sekalipun tidak terang-terangan, adalah bukti bahwa organsisasi Mafia dikelola secara profesional. Kenyataan bahwa para mafioso, cosa nostra, the Mob, dan sederet panjang nama lainnya lebih memilih tutup mulut dan membenci sesuatu yang bersifat dokumentasi, maka buku “The Mafia Manager: a guide to the corporate
machiavelli.” merupakan sumber untuk mengetahui seluk beluk kehidupan para mafia dan organisasinya.
Memang buku ini berbau kriminal murni, namun dalam kehidupan sehari-hari, kita hampir selalu bersentuhan dengan para kriminal baik yang berleher kasar (rough neck) maupun berkerah putih (white collar).
Kalaupun ada yang dirasa kurang dari buku ini adalah bagaimana para mafioso yang begitu taat beragama sehingga sering dijuluki “kongregasi Bunda Teresa,” namun begitu enteng menarik pelatuk saat menembak mati musuhnya lalu mencium salib yang dipercayai mereka ajaran pembawa kedamaian tanpa kekerasan. Tetapi sekali lagi, betapa banyaknya dewasa ini pemboman, pembunuhan dengan mengatas namakan Tuhan. Maka secara keseluruhan mr “V” menulis cara mengelola perusahaan ala Machiavelli yang pragmatis.
